8 mins read

Perbedaan ERP vs MRP: Pengertian dan Perbandingan Lengkap

MRP vs ERP

Highlights

  • Sistem MRP dan sistem ERP memiliki peran dan fungsinya masing-masing dalam membantu perusahaan mengelola aktivitas bisnisnya sehari-hari
  • MRP berfokus dalam aspek perencanaan bahan baku dan jadwal produksi, sedangkan ERP memiliki cakupan yang lebih luas dan berfokus dalam mengintegrasikan seluruh fungsional bisnis
  • Pilih sistem mana yang paling tepat untuk bisnis dengan melihat dari aspek kebutuhan bisnis, kesiapan proses, dan strategi pertumbuhan Anda

Sistem perencanaan sumber daya yang tepat menjadi penentu efisiensi operasi dan daya saing perusahaan, terlebih pada perusahaan yang skalanya tumbuh pesat.

Saat ini, banyak platform maupun sistem operasional yang mendukung kinerja yang lebih efektif dan efisien, beberapa di antaranya adalah MRP (Material Requirements Planning) dan ERP (Enterprise Resource Planning).

Bagi para pemilik bisnis baru mungkin akan sering kebingungan perbedaan antara MRP dan ERP, karena keduanya memiliki manfaat yang dibutuhkan bisnis Anda.

Untuk dapat membedakan keduanya dengan baik dan memiliki sistem operasional yang tepat untuk kebutuhan bisnis, simak ulasannya dari Mekari Jurnal berikut ini.

Apa Itu MRP (Material Requirements Planning)?

Sebelum masuk ke perbandingannya antara MRP dan ERP, pahami terlebih dahulu masing-masing sistem dan fungsi dasarnya.

MRP adalah sistem yang mendukung perencanaan kebutuhan material tingkat lanjut yang komprehensif dalam proses produksi.

Tujuan utamanya berfokus dalam memastikan bahan baku dan komponen tersedia tepat waktu untuk memenuhi jadwal produksi sambil meminimalkan persediaan.

Adapun fungsi dasar dari sistem MRP adalah:

  • Mengolah bill of material (BOM) untuk menghitung kebutuhan bahan baku dan jadwal produksi
  • Menentukan kapan dan batasan komponen dipesan
  • Mengelola lead time dan safety stock untuk mengurangi risiko kekurangan material

Definisi ERP (Enterprise Resource Planning)

Selanjutnya terdapat definisi dari sistem ERP, ERP sendiri merupakan sistem informasi dengan cakupan yang lebih luas melintasi berbagai fungsi bisnis yang dihubungkan secara terpadu.

Umumnya, modul yang tersedia terdiri dari keuangan, akuntansi, persediaan, pembelian, produksi, SDM, penjualan, CRM, hingga pelaporan dan analitik.

Fungsi-fungsi utama dari sistem ERP mencakup:

  • Mengintegrasikan data lintas departemen dengan mulus dan dapat dipakai bersama
  • Menjembatani modul keuangan dengan modul-modul operasional lainnya secara realtime
  • Memberikan visibilitas menyeluruh aktivitas yang berjalan dan indikator kinerja bisnis

Perbedaan antara ERP dan MRP

MRP dan ERP sama-sama digunakan untuk membantu perusahaan merencanakan dan mengendalikan operasional. Namun, keduanya memiliki cakupan dan fungsi yang berbeda.

MRP (Material Requirements Planning) berfokus pada perencanaan kebutuhan material dan produksi. Sementara itu, ERP (Enterprise Resource Planning) memiliki cakupan yang lebih luas karena mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis dalam satu sistem.

Berikut perbandingan MRP dan ERP berdasarkan beberapa aspek utama.

Aspek MRP ERP
Fokus utama Perencanaan kebutuhan material dan produksi Integrasi proses bisnis secara menyeluruh
Ruang lingkup Produksi, material, dan inventory Keuangan, procurement, inventory, produksi, supply chain, penjualan, dan fungsi bisnis lainnya
Data utama BOM, inventory, jadwal produksi, lead time, dan kebutuhan material Data operasional dan finansial lintas fungsi dalam sistem terintegrasi
Pengguna utama Production planner, purchasing, dan tim inventory Manajemen, finance, procurement, produksi, warehouse, sales, dan fungsi terkait
Integrasi keuangan Tidak selalu menjadi bagian utama dari sistem Aktivitas operasional dapat terhubung dengan pencatatan dan pelaporan keuangan
Skalabilitas Sesuai untuk kebutuhan perencanaan material dan produksi Mendukung organisasi dengan proses, unit bisnis, atau lokasi yang lebih kompleks
Manfaat utama Membantu menjaga ketersediaan material dan ketepatan perencanaan produksi Meningkatkan visibilitas, koordinasi, kontrol, dan efisiensi lintas fungsi
Pertimbangan Cakupan terbatas jika perusahaan membutuhkan integrasi lintas departemen Implementasi membutuhkan perencanaan proses, data, integrasi, dan perubahan organisasi yang lebih luas

Jika kebutuhan utama perusahaan adalah memastikan material tersedia sesuai jadwal produksi, sistem MRP dapat menjadi solusi yang memadai.

Namun, ketika perusahaan perlu menghubungkan produksi dengan procurement, warehouse, finance, sales, hingga supply chain, ERP memberikan cakupan yang lebih luas karena data dan proses dapat dikelola melalui sistem yang terintegrasi.

Baca Juga: Perbedaan CRM dan ERP: Kegunaan dan Pilihan Terbaik untuk Bisnis Anda

Evolusi Sistem Operasional Bisnis

Perkembangan ERP tidak terlepas dari evolusi sistem perencanaan produksi yang sebelumnya berfokus pada kebutuhan material.

Secara sederhana, perkembangannya dapat dilihat melalui tiga tahap utama: MRP I → MRP II → ERP.

MRP I: Fokus pada Perencanaan Material

MRP atau Material Requirements Planning berkembang sebagai pendekatan untuk membantu perusahaan manufaktur menghitung kebutuhan bahan baku berdasarkan rencana produksi.

Sistem ini menggunakan beberapa informasi utama seperti:

  • Bill of Materials (BOM)
  • Data persediaan
  • Jadwal produksi
  • Lead time
  • Permintaan atau kebutuhan produksi

Dengan MRP, perusahaan dapat memperkirakan material apa yang dibutuhkan, berapa jumlahnya, dan kapan material tersebut harus tersedia.

Perubahan utama pada era MRP I: perencanaan kebutuhan material yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual mulai dapat dihitung secara lebih sistematis dengan dukungan sistem komputer.

MRP II: Dari Material ke Perencanaan Produksi

Seiring meningkatnya kompleksitas operasional manufaktur, kebutuhan perusahaan tidak lagi terbatas pada ketersediaan material.

MRP kemudian berkembang menjadi Manufacturing Resource Planning atau MRP II, dengan cakupan yang lebih luas seperti:

  • Perencanaan kapasitas mesin, tenaga kerja, dan fasilitas
  • Penjadwalan serta pengendalian aktivitas produksi
  • Pengelolaan work center
  • Perhitungan biaya produksi
  • Evaluasi kebutuhan sumber daya berdasarkan rencana produksi
  • Integrasi yang lebih erat dengan informasi finansial

Perubahan utama pada era MRP II: perusahaan mulai menghubungkan kebutuhan material dengan kapasitas dan sumber daya produksi sehingga perencanaan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Evolusi ke ERP: Integrasi Lintas Fungsi Bisnis

Ketika kebutuhan perusahaan berkembang melampaui area manufaktur, konsep MRP II kemudian berkembang menjadi Enterprise Resource Planning (ERP).

ERP memperluas integrasi dari fungsi produksi menuju berbagai proses bisnis lainnya, seperti:

  • Keuangan dan akuntansi
  • Procurement dan purchasing
  • Inventory dan warehouse
  • Supply chain management
  • Sales dan customer management
  • Human resources
  • Asset management
  • Analytics dan business intelligence

Perkembangan teknologi cloud, integrasi API, otomatisasi, AI, dan machine learning kemudian semakin memperluas kemampuan ERP.

ERP modern tidak hanya berfungsi sebagai sistem pencatatan transaksi, tetapi juga membantu perusahaan membangun single source of truth untuk meningkatkan koordinasi, visibilitas, serta pengambilan keputusan lintas departemen.

Dengan demikian, evolusinya dapat dipahami sebagai:

MRP I → mengelola kebutuhan material
MRP II → mengelola sumber daya manufaktur
ERP → mengintegrasikan sumber daya dan proses bisnis perusahaan

Baca Juga: Perbedaan SCM dan ERP: Panduan Lengkap untuk Manajemen Rantai Pasokan

Manfaat Implementasi ERP dan MRP

MRP dan ERP dapat memberikan manfaat yang berbeda sesuai dengan lingkup operasional yang ingin dikelola perusahaan.

Manfaat MRP Manfaat ERP
Membantu memastikan ketersediaan material sesuai kebutuhan produksi Memberikan visibilitas lintas fungsi bisnis dalam satu sistem
Mengurangi risiko kekurangan maupun kelebihan persediaan Menghubungkan aktivitas operasional dengan data finansial
Membantu meningkatkan akurasi perencanaan produksi Mengurangi duplikasi dan fragmentasi data antar departemen
Mendukung perencanaan pembelian berdasarkan kebutuhan produksi Memperkuat kontrol, audit trail, dan standardisasi proses
Membantu mengoptimalkan tingkat persediaan Mendukung skalabilitas dan ekspansi operasional
Memberikan dasar perencanaan material yang lebih terstruktur Mendukung analisis dan pengambilan keputusan berbasis data

Kapan Perusahaan Membutuhkan MRP?

MRP lebih relevan ketika kebutuhan perusahaan masih berfokus pada:

  • Perencanaan kebutuhan material
  • Pengelolaan BOM
  • Ketersediaan inventory untuk produksi
  • Penjadwalan produksi
  • Pengadaan material berdasarkan kebutuhan produksi

Dalam kondisi tersebut, MRP dapat membantu tim produksi dan procurement menjaga keseimbangan antara kebutuhan produksi dengan jumlah persediaan.

Kapan Perusahaan Membutuhkan ERP?

ERP menjadi lebih relevan ketika kompleksitas bisnis meningkat dan perusahaan perlu menghubungkan lebih banyak fungsi, misalnya:

  • Produksi dengan procurement
  • Procurement dengan inventory
  • Inventory dengan warehouse
  • Sales dengan produksi
  • Produksi dengan costing
  • Aktivitas operasional dengan finance
  • Beberapa cabang, gudang, atau unit bisnis dalam satu sistem

Dengan ERP, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sistem yang terpisah dan membangun aliran data yang lebih konsisten antar fungsi.

Tantangan Transisi dari MRP ke ERP

Perusahaan yang sebelumnya mengandalkan MRP dapat mempertimbangkan ERP ketika kompleksitas bisnis semakin meningkat. Namun, transisi tersebut membutuhkan beberapa persiapan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kesiapan proses bisnis: perusahaan perlu memetakan dan menstandarkan proses sebelum memindahkannya ke dalam sistem.
  • Kualitas dan migrasi data: data material, supplier, pelanggan, inventory, hingga transaksi historis perlu dibersihkan dan dipersiapkan.
  • Integrasi sistem: identifikasi sistem yang akan digantikan maupun tetap digunakan bersama ERP.
  • Manajemen perubahan: pengguna perlu memahami proses kerja baru setelah ERP diterapkan.
  • Scope implementasi: tentukan modul dan fungsi yang menjadi prioritas agar implementasi tetap terkontrol.
  • Total Cost of Ownership: pertimbangkan biaya lisensi, implementasi, integrasi, migrasi, training, hingga pengembangan sistem dalam jangka panjang.

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur dapat memulai dengan MRP untuk mengelola material dan perencanaan produksi. Ketika perusahaan berkembang menjadi multi-warehouse, memiliki jalur distribusi yang lebih kompleks, atau membutuhkan integrasi dengan procurement dan finance, kebutuhan tersebut dapat menjadi alasan untuk beralih ke ERP.

Baca Juga: Perbedaan ERP untuk Ritel, Manufaktur, dan Trading: Apa Bedanya?

Kesimpulan

Perbedaan utama antara MRP dan ERP terletak pada cakupan proses bisnis yang dikelola.

MRP berfokus pada perencanaan kebutuhan material dan produksi. Sistem ini membantu perusahaan memastikan bahan baku tersedia dalam jumlah dan waktu yang sesuai dengan kebutuhan produksi.

ERP memiliki cakupan yang lebih luas. Sistem ERP menghubungkan proses seperti produksi, inventory, procurement, warehouse, finance, sales, hingga supply chain sehingga perusahaan dapat mengelola operasional melalui data yang lebih terintegrasi.

Ketika perusahaan mulai menghadapi proses lintas departemen, memiliki beberapa lokasi atau gudang, meningkatkan volume transaksi, maupun membutuhkan visibilitas operasional yang lebih menyeluruh, ERP dapat menjadi langkah berikutnya setelah sistem perencanaan produksi yang berdiri sendiri.

Mekari ERP membantu perusahaan mengintegrasikan berbagai proses bisnis dalam satu sistem, mulai dari keuangan, procurement, inventory, warehouse, produksi, hingga supply chain.

Dengan data dan proses yang saling terhubung, perusahaan dapat meningkatkan visibilitas operasional, mengurangi pekerjaan manual dan fragmentasi data, serta membangun proses bisnis yang lebih terkontrol dan scalable.

Bagi perusahaan yang sedang mengevaluasi transformasi dari sistem terpisah menuju pengelolaan operasional yang lebih terintegrasi, Mekari ERP dapat digunakan untuk membangun sistem sesuai kebutuhan, struktur, dan kompleksitas bisnis perusahaan.